-Indra Yadi Muin
Bukan seperti fakta bumi datar yang saat ini di tolak mentah mentah oleh khalayak. Keyakinan masyarakat justru menguat bahwa Fasyankes tidak akan bernyawa tanpa kehadiran insan keperawatan. Akan sama halnya ibarat kehidupan tanpa islam. Atau bahasa ngetrendnya "bak sayur tiada garam".
Tak dapat dibayangkan apabila Rumah Sakit tak di huni oleh mereka yang senantiasa sigap dalam melakukan upaya "caring" terhadap kondisi kesehatan, sebut mereka sebagai Perawat. Hambar rasanya serupa dengan hidup anda tanpa saya.
Tidak berlebihan jika menganggap bahwa perawat merupakan jantung pelayanan kesehatan. Sehingga Dunia menempatkan Perawat dalam posisi profesi yang harus diprioritaskan. Beda halnya dengan Indonesia, negeri kaya tapi miskin ini justru bersikap acuh pada malaikat malaikat dunia titipan Allah, perawat.
Bagi pegiat keperawatan, mungkin tidak asing lagi dengan istilah "pelanggaran pemerintah terhadap konstitusi negara". Dan pelanggaran tersebut sangat fatal, namun dianggap biasa.
Amanah Perundang-undangan tidak dilaksanakan, malah membuat Permen semaunya. Demi melicinkan agenda triliunan rupiah.
Wakil rakyat pun diam, padahal mereka dipilih bukan untuk tutup mulut.
Sayang, profesi keperawatan dihuni oleh orang bermental bebek. Followers buta. Banyak yang tak paham situasi, padahal seyogyanya profesi yang dianggap jantung ini butuh pula diperdarahi. Dengan cara disejahterakan. Hak nya dipenuhi bukan diperas dan dikupas dengan tetek benge ujian kompetensi.
Ujian kompetensi katanya, yang UU Nomor 20 Tahun 2003, UU Nomor 36 & 38 Tahun 2014 jelas banyak menjelaskan proses pelaksanaan teknisnya justru di acuhkan oleh Menristekdikti dengan mengeluarkan Permenristek No.12 Tahun 2016. Permen yang sama sekali bertentangan dengan Amanah hukum. Yang jelas menunjukkan bahwa eksekutor pemerintah lalai dan tidak patuh terhadap negara.
Bukan itu saja, problematika keperawatan sedang Tsunami besar.
Bodohnya mereka yang paham kondisi ini pun ikut mendiamkan. Aktivis kondang keperawatan yang kemarin meneriakkan RUU mungkin masih teridur pulas dengan mimpi buruk kesejahteraanya. Atau tidur akibat kekenyangan hasil kongkalikong nya dengan mafia advokasi. Yang lain malah Berleha leha menggoyangkan tangan lalu berdalih "sabar saja, akan indah pada waktunya".
Bangsat!
Mereka mungkin tak paham, jika jantung tak diperdarahi maka ia akan iskemik. Meninggalkan jaringan mati, yang akan membuat dunia kesehatan mati suri.
Saatnya yang mudi, berdiskusi. Jatuhkan mereka yang doyan kolusi.
Tuntut hak hak keperawatan.
Sudah saatnya kita sejahtera.
Hidupkan Mimbar Bebas hingga pelosok nusantara.
Satukan platform, gaungkan "Indonesia Sehat Bersama Perawat !!"


Tidak ada komentar:
Posting Komentar