Menjaga cinta sama sulitnya dengan memaksa melupa
Misal aku sudah melewati siang dan malam tanpamu. Aku dapat melewati bulan demi bulan tanpa hadirmu. Aku bisa menjalani puluhan hari tanpa jiwa dan suaramu. Apa itu pertanda aku mampu melupa?
Misal doa yang biasa aku lantunkan untukmu sudah tak lagi terucap. Bibir ini tak lagi menyebut namamu. Telinga ini tak lagi mendengar kata darimu. Apa aku berhenti mencinta?
Andai waktu dapat menjawabnya. Hari ini kenangan tak akan membuka lembaran-lembarannya. Sehingga janji yang pernah kita tulis dalam diari masa depan itu tak menampakkan dirinya.
Terlalu jelas. Masih begitu hitam warna tinta yang terakhir kau tulis. Senja pun tak mampu memalingkan kedua matanya.
Masih membekas, delapan kupu-kupu putih pernah kita terbangkan bersama, lepas dengan kenangan yang sama pernah kita jalani.
Dihadapan kita pernah ada binatang buas, harimau yang mengendap-endap siap menerkam jaring laba-laba yang bersama kita sulam. Juga pernah ada burung perkutut. Yang melantunkan kata-kata indah tentang kisah akan abadi kita.
Disitu juga ada pohon rindang. Yang berucap selamat pagi ketika matahari mulai meninggi. Kala itu perkutut kembali. Berbondong-bondong menuju pohon kelapa yang ia sarangi.
Andai purnama tertutup awan malam ini. Semesta tak mampu melihat apa yang mesti kita perbuat. Aku akan menggulung waktu hingga kita duduk tepat dikursi depan pintu. Menceritakan manisnya kita tersenyum bersama. Saling memberi tatapan malu. Disitu, hanya ada kita dan khayalan.
Indah. Siapapun yang tengah menontonya pasti terharu dan pipinya merona. Menyaksikan kita yang sedang bercengkrama dengan malam. Gelap disekitar ibarat seberkas cahaya ditengah terowongan hitam. Apalagi, kamu menceritakan kisah pangeran dan putri. Dongeng yang selalu kau ulang-ulangi. Dan tak berhenti kau cerita hingga pagi. Malam ini, terasa panjang karena cinta yang senantiasa bersemi. Mengabadikan nama yang sejak zaman yunani terpateri dalam hati. Bahkan filsuf-filsuf termahsyur pun tak mampu menyairkan cerita.
Kalau panjang nafasku, kuingin bunuh diri disisimu. Hingga kau yakin, bahwa saat sakratul maut pun aku enggan melupa tentangmu. Aku akan mengulang dan menyanjung putri ku.
"Putri... putri... peluklah !!"
Malam pun akhirnya mencair. Kisah pangeran dan putri ialah khayalan abadi. Pertemuan kita di kursi depan pintu akhirnya ditelan angin malam yang dingin.
Aku hanya berhalusinasi.
Namun, dinding pernah menyapaku. Menitip salam yang pernah kau sampaikan. Katanya "Kamu merindu". Meski aku tahu, dinding seringkali berbohong padaku.
Aku tahu, karena dinding pernah berkata bahwa cinta letaknya di matahari kala siang, dan tersimpan pada bulan kala malam. Jadi jika tetap ingin cinta, maka jangan biarkan siang dan malam berganti. Padahal siang dan malam niscaya berganti. Matahari akan terbenam dan bulan akan bersinar. Bulan pun kan mati saat matahari hendak terbit.
Karenanya aku memilih tak percaya pada dinding yang berdusta
Baju-bajuku pernah berbisik. Kalau kamu memutuskan untuk memaksa melupa. Tentang delapan kupu-kupu putih, jaring laba-laba, dan lantunan indah burung perkutut.
Tapi tahukah kamu? Kalau subuh ini sedang memberitahuku sesuatu. Bahwa menjaga cinta adalah bagian terpenting dari segalanya. Apalagi tentang-tentang kita.
Benarkah? Aku sedang tak ingin tertipu.
Karena...
Aku juga tak percaya pada pena. Yang pernah mengeluarkan tinta untuk menuliskan cerita kita. Cerita kita ibarat kisah antara pena dan kertas. Dimana secarik kertas putih mengorbankan sucinya demi tinta hitam yang pena berikan. Dalam keadaan itu aku sebagai kertas dan kamu pena-nya. Kejamnya, pena tak pernah setia. Pena cenderung meninggalkan kertasnya yang telah kusam. Ia bahkan hilang tak temu temu. Namun tahukah kamu? Kertas senantiasa menyediakan lembaran baru, kapanpun pena mau kembali menyoretinya.
Tragis
Lantas apa yang bisa aku percaya?
Satu hal yang aku tahu bahwa menjaga cinta sama sukarnya dengan memaksa melupa.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar