RINDU YANG MENYAMPAH

RINDU YANG MENYAMPAH
- Indra Yadi Muin


T

elah dua kali matahari hadir. Kembali membawa duka yang kemarin. Cahayanya sama, sinarnya tak berubah tapi mampu meredupkan hati yang gelisah. Hati yang merana karena meninggalkan purnamanya. Menghianati janji bulan bulan lalu yang kelana. Menggelapkan dua buah hati yang pernah di bina dan terpisah selamanya. Takkan lagi bersatu sekalipun oleh maaf yang terlantunkan dengan indah. Karena keindahan lalu hanyalah gelap yang tersisa. Akibat hianat.

Dahulu ketika kita belum menjadi cinta. Wanita yang selalu menghadirkan darah dan luka. Namun wanitamu agak berbeda, datang justru menjahit luka yang sering parah. Menyatukan kulit yang selalu terpisah. Kau merawatnya, hingga sakitnya mereda. Tapi aku sedikit bajingan. Merobek sendiri luka yang pernah kau hentikan darahnya. Merahnya aku tambahkan kesumba hingga orang orang makin iba. Lalu aku tersiksa, kembali.

Sepenuhnya bukan salahmu. Kepandiranku lah yang pantas engkau tuntut. Kebodohanku dalam menghapus rindu. Rindu yang tiap-tiap detik menumpuk. Menjadikanku bingung melepaskannya dengan apa. Aku yang tak mau dan tak mampu terpisah. Justru melakukan praktik praktik yang salah. Hingga rindu itu berubah menjadi pilu. Engkau marah dan menjadikan rindu yang menumpuk adalah sampah.

Suaramu. Yang sering kau kirimkan lewat udara dan telepon. Sungguh tak dapat membayar  kerinduan. Justru membuatnya meradang. aku tak dapat menahannya. Dibalik kebimbanganku dalam mengambil langkah yang salah, terbesit nama dan wajahmu dengan berbagai rupa. Kelak bagaimana aku tanpamu. Nanti bagaimana mimpi mimpi ku raih bukan bersamamu. Kini aku yang hanyalah raga tanpa jiwa. mulai gentar menghadapi realita. Sanggupkah?. Jiwaku telah pergi bersamamu, membawa seluruh harapan harapan yang dulu pernah ku susun.

Benangku telah kuhabiskan merajut mimpi denganmu. Semua warna telah kutuangkan dalam melukis tentangmu. Segala perkakas yang pernah ku gunakan dalam membangun hidup, semua terisi tentang kenanganmu. Hendak aku bagaimana. Seluruh bahan baku tentang perjalananku nanti, perjuanganku kelak, telah habis untukmu. Aku sudah tak punya modal untuk hidup. Aku sudah tak mampu jatuh cinta kembali sedalam cintaku padamu. Lalu, masih mampukah raga ini berdiri, tanpamu?

Aku putus asa. Benar benar putus asa. Menjalani hidup seperti ini adalah kecemburuan pada bahagia, pada masa depan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages