GONDRONG DAN IDEALISME
"Urak-urakan, menjijikan!"
Begitu kira-kira reaksi banyak orang setiap kali melihat seorang laki-laki remaja yang dengan sengaja memanjangkan mahkota kepalanya. Apalagi reaksi para ladies yang terhormat, bisa saja badannya seketika alergi sambil kejang-kejang kecil dan menyemprotkan mantra
"Hii.. Najis, najis.. Naujubillah!"
Yaps, Gondrong adalah istilah yang disematkan untuk lelaki dengan rambut yang panjang. Istilah ini sangat tidak cocok untuk perempuan, padahal rambut panjang begitu sangat identik dengan wanita.
Hampir semua orang akan sependapat, bahwa pria gondrong adalah tipikal manusia bebal, tak mau diatur dan tak mengenal sopan santun. Karena itu dalam film-film borjuis, para penjahat pasti akan digambarkan dengan rambut gondrong.
Namun secara historis, gondrong sesungguhnya sangat erat dengan tradisi masyarakat Asia Tenggara, termasuk Nusantara kala itu. Karena dahulu, gondrong merupakan simbol dari kewibawaan seseorang terutama bagi pria. Rambut gondrong juga merupakan identitas para pemuda dalam perjuangan revolusi indonesia. Para pejuang menjadikan rambut gondrong sebagai identitas dari kelompok perlawanan karena style necis dan modis adalah identitas dari para penjajah bangsa belanda.
Setelah merdeka, di era orde lama pada masa kepemimpinan Soekarno akhirnya pernah kesal dengan gondrong sehingga men-cap rambut gondrong sebagai "kontra-revolusioner" karena saat itu gondrong sudah menjadi gaya hidup orang-orang barat.
Pada orde baru, pemerintahan rezim Soeharto bahkan pernah mengadakan razia anti-gondrong dan sasaran utamanya adalah pemuda dan mahasiswa dikampus-kampus.
Pemerintah akhirnya mengkampanyekan rambut anti-gondrong karena gondrong dicap sebagai ekstrimis.
Entitas rambut gondrongpun akhirnya makin tertekan. Karena krisis ekonomi yang meradang dan kondisi politik yang tidak stabil. Akhirnya mahasiswa dan pemuda yang dimotori oleh para rambut gondrong bangkit dan melawan rezim.
Begitulah kira-kira histori perjalanan rambut gondrong dengan dinamika perlawanannya. Yang begitu sangat sering dimusuhi oleh penguasa sehingga diasosiasikan sebagai kelompok penentang dan subversif.
Sampai saat ini, gondrong masih menjadi pilihan style dari mahasiswa yang memegang teguh idealismenya. Terlepas dari pengaruh musik rock yang terkesan hippies. Gondrong juga membawa ideologinya sendiri. Karena gondrong tidak hanya sekedar gaya rambut, melainkan juga bagian dari prinsip politik dan idealisme hidup.
Namun mesti diingat, dalam menunjukkan perlawanan atau menjadi kritikus tidak harus dengan gondrong. Cukup dengan ide dan gagasan yang progresif dan reformis.
Bagi saya pribadi, gondrong punya visi dan misi tertentu. Sebagai bentuk identitas pembela dari kelompok terpinggirkan, masyarakat bawah dan kaum marjinal
Salam dari saya, manusia yang gagal gondrong
-Indra Yadi Muin
GONDRONG DAN IDEALISME
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Keren
BalasHapus