Ditulis dan diposting sejak 15 Noember 2019 pada portal facebook.
Rasa-rasanya baru kemarin kau di lahirkan. Saat Wabapa dan Wamama
(panggilan untuk ayah dan ibu dirumah) menyuruhku untuk memanggilmu "ade(k)".
Jika kuingat-ingat sepertinya sudah banyak waktu kita habiskan bersama.
Apalagi masa kecil kita dulu. Saat masa-masa kita lewatkan dengan
bermain meski sesekali bertengkar hebat. Masa-masa itu, kakak tak pernah
sempurna mengingatnya, namun ada beberapa yang masih membekas di
ingatan.
Tahukah?, Saat adek masih kecil, saat kau masih disusui oleh Wamama. Kakak selalu mengajakmu bermain. Sampai pernah sekali tanganku
tak sengaja terhempas mengenai wajahmu yang mungil itu. Lalu wajahmu
memerah dan kau menangis setelahnya. Adek menangis dengan keras,
sehingga Wamama memarahiku tanpa iba. Semenjak saat itu, kakak mulai
cemburu dengan kehadiranmu. Lebih tepatnya, ku tak tahu apa yang
kurasakan saat itu. Namun setiapkali melihatmu digendong oleh orangtua
kita, perasaanku bergejolak kesal. Seolah kasih sayang mereka terhadapku
akan terbagi karenamu.
Waktu demi waktu berlalu. Adek perlahan-lahan bermetamorfosis menjadi dewasa.
Waktu memang berjalan begitu cepat. Sekarang kau sudah beranjak dewasa. Meski begitu, waktu tidak akan merubah posisimu sebagai adek mungilku. Dan aku tetap sebagai kakakmu. Kakak bangga dengan kegigihan dan perjuanganmu.
Tentu wamama sama wabapak juga
Oh iya, dua hari lagi kau ujian kompetensi yah? Semoga bisa menjadi Ahli Teknologi Laboratorium Medik yang profesional. Kakak percaya kalau adek bisa. Jangan mudah menyerah dengan keadaan. Tetap menjadi adik yang keukeh mengejar cita-cita. Jangan mudah putus asa. Dan kau adalah adek terbaikku.
Salam kangen, kakakmu
Adek ingat? Karena kenakalanku dulu, kakak selalu dipukuli, oleh siapa
lagi kalau bukan Wamama. Seperti yang kita tahu, Wamama mendidik kita
dengan keras. Wamama membuatkan kita jadwal kegiatan dalam satu hari
penuh. Setiap kegiatan ada prosedurnya sendiri (bahasa sekarang mungkin
SOP; Heheh). Dan kakak yang selalu melanggar aturan itu. Dirumah, setiap
satu kesalahan akan dibayar dengan satu pukulan. Sakit. Jika ada yang
tidak percaya. Silahkan coba sendiri😁.
Karena itu tidak jarang membuatku menangis. Anehnya, setiap kali kakak
menangis. Mengapa adek juga ikut menangis?. Padahal bukan tubuhmu yang
dipukuli, mengapa adek yg menjerit kesakitan?. Darisitu kakak tahu,
kalau adek menyayangiku dengan tulus.
Semenjak saat itu, sebelum kesekolah kakak slalu mengepang rambutmu, adek ingatkan? Kadang-kadang kepang dua, juga kepang cacing. Yah walau adek selalu protes. Kepangan kakak tidak serapih kepangan mama.
Semenjak saat itu, sebelum kesekolah kakak slalu mengepang rambutmu, adek ingatkan? Kadang-kadang kepang dua, juga kepang cacing. Yah walau adek selalu protes. Kepangan kakak tidak serapih kepangan mama.
Hari ini, kedekatan itu mulai
sirna perlahan-lahan. Mungkin karena usia kita yang mulai beranjak
dewasa. Adek sudah punya kesibukkan sendiri, begitupun denganku. Kakak
sudah tidak bisa lagi menggendongmu sehangat dulu. Membawamu kemanapun
kau mau. Sudah tidak bisa mengepang rambutmu yang keribo itu. Walau
kutahu kau tidak suka dipanggil keribo. Karena itu, rambutmu kau catok
biar terlihat smooth.
Waktu memang berjalan begitu cepat. Sekarang kau sudah beranjak dewasa. Meski begitu, waktu tidak akan merubah posisimu sebagai adek mungilku. Dan aku tetap sebagai kakakmu. Kakak bangga dengan kegigihan dan perjuanganmu.
Tentu wamama sama wabapak juga
Oh iya, dua hari lagi kau ujian kompetensi yah? Semoga bisa menjadi Ahli Teknologi Laboratorium Medik yang profesional. Kakak percaya kalau adek bisa. Jangan mudah menyerah dengan keadaan. Tetap menjadi adik yang keukeh mengejar cita-cita. Jangan mudah putus asa. Dan kau adalah adek terbaikku.
Salam kangen, kakakmu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar