-Indra Yadi Muin
Sebagai penikmat sastra, saya tentu menyukai
puisi. Puisi bagi saya adalah metode mengekpresikan rasa dengan
deskripsi-deskripsi yang unik. Bahkan dalam beberapa kesempatan saya
mendeskripsikan Puisi sebagai hati yang pernah patah, bibir yang telah lelah
dan mata yang senantiasa kena musibah. Sejatinya, puisi adalah potensi diri
setiap manusia. Karena itu, setiap insan dapat berpuisi dengan sendirinya.
Namun dengan menulis atau merangkai beberapa kata menjadi puisi bukan berarti
kita adalah penyair atau pujangga. Melainkan pembelajar yang sedang mencoba
untuk berkarya. Begitu bukan?
Dibawah ini terdapat beberapa karya puisi yang
saya tulis sendiri. Sangat tidak sempurna, seperti pemiliknya. Sekumpulan Puisi
yang bertemakan Rindu. Oh ya, agar syahdu, membaca puisi
jangan hanya dengan mata melainkan juga dengan hati, biar sampai dihati.
Selamat menyelami!
1. BERSERAKAN
(Ditulis pada 31 Oktober 2019)
Puisi ini kurangkai dari sedih yang kupungut satu-satu
yang berserakan dan pernah jatuh
di gang-gang sempit
kamar yang remang-remang
dan kursi-kursi kosong di warung kopi
kulakukan itu, karena rindu yang tak bertepi tak pernah menepi
tak pernah pergi dari pikiranku yang sunyi
rindu itu selalu tersusun rapih
seperti buku-buku di perpustakaan tua yang tak pernah dikunjungi
nyampah-bangsat-taik!!
kuharap dengan puisi ini kau akan menjadi caci maki
dari hariku yang sepi tanpa "Hai" darimu lagi
dan rindu tinggal jadi alas kaki
yang tak pantas dijadikan alas untuk bermimpi
tetapi saja, bukan lagi, kau tetap masih
2. JAJARGENJANG
(Ditulis pada 02 November 2019)
Kuingin ungkapkan satu hal dengan berterus terang
padamu duhai wanita jalang!
rindu yang menujumu slalu kuharap berjarang
paling tidak, biar hatiku tak berubah menjadi jajargenjang
yang menjadikan rasaku tumpul
pada tiap wanita yang ingin dipinang
bajingan!
aku juga punya hak untuk bersenang-senang
tentu aku tak ingin seumurhidup membujang
aku juga ingin tidur dengan seseorang diatas ranjang
saling menghangatkan dan menanggalkan segala kenang
atau aku hidup hanya untuk mengenangmu saja?
tentu bukan, kan?
3. KAMU DAN RINDU, SEKUTU
(Ditulis pada 01 November 2019)
Pada pagi aku membeku
tersipu sayu pada embun
yang luruh ragu-ragu
rindukanmu buat malamku jadi keruh
lidahku menjadi kelu
hatiku menjadi luluh
kamu dan rindu seperti sekutu
selalu bisa membuatku lesu
tiap-tiap detik berlalu
4. MEMBUNUH MATAHARI
(Ditulis pada 22 Maret 2020)
Setelah kau pergi
aku menjadi alergi dengan pagi
Handphone-ku tlah manja dengan "Hai"mu
kala mentari mulai meninggi
semenjak itu
aku berupaya membunuh matahari
biar tak menumbuh lagi esok hari
tapi...
Kau tahu sendiri
5. HUJAN
(Ditulis pada 12 Desember 2019)
Terkadang aku heran
mengapa hujan slalu menjelma rindu yang mengenaskan
padahal apa yang salah dari hujan
sementara ia hanya sekumpulan tetesan air
yang sengaja dijatuhkan Tuhan
namun mengapa begitu menyakitkan
seolah ada kenangan kelam yang tergenang
6. NERAKA
(Ditulis pada 22 Maret 2020)
Semenjak kita dipertemukan
semesta seolah berubah menjadi neraka
sedang aku, senantiasa terus-terusan disiksa
tanpa jeda
akibat dosaku yang tak mampu melupa
Demikian beberapa puisi tentang rindu, jika ada kritik dan masukkan tentang puisi silahkan dikomentari dengan bijak. Setiap orang pasti pernah merindu, pada siapapun ia tuju, pada orang tua, sanak saudara, kekasih, sahabat atau bahkan lainnya. semoga rindu kita terbayarkan!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar