Saya seperti mendapat pukulan hebat, ditengah sedang marak isu pandemi COVID-19 pada pertengahan tahun 2020. Tepatnya pada hari Selasa, 25 Agustus 2020, saya menerima kabar melalui pesan whatsapp dari tempat saya bekerja kala itu. Ruangan High Care Unit 4B Rumah Sakit Universitas Airlangga Surabaya. saya dikabari langsung oleh kepala ruangan saya yang biasa dipanggil sebagai Ners Nisa. Dikabarkan Bahwa hasil Swab PCR saya dinyatakan Confirm Covid-19. Sehingga saya diminta untuk segera ke Rumah Sakit agar dapat diisolasi di ruang dormitori staff. Suatu ruang khusus untuk karyawan Rumah Sakit yang akan melakukan isolasi mandiri.
Yepss. Isolasi Mandiri merupakan istilah paling nge-trend saat itu, istilah yang merujuk sebagai aktivitas membatasi kontak langsung dengan orang lain dan lingkungan luar yang bertujuan untuk mencegah penularan virus Covid-19 yang katanya sedang saya idap. Biasanya staff yang didiagnosa terkontminasi virus akan ditawarkan dua pilihan. Hendak isolasi mandiri di rumah atau di dormitori. Namun karena, saat itu saya sedang tinggal dirumah Wasis, salah satu teman saya di Surabaya, saya akhirnya memutuskan untuk isolasi mandiri di rumah sakit agar tidak menularkan virus ke Wasis. Sore itu juga saya memutuskan berangkat ke IGD Rumah Sakit tempat saya bekerja.
Di IGD saya dianamnesa atau diperiksa oleh petugas yang saat itu sedang berjaga, yang mayoritas tentu saya kenal. Dari ruang IGD saya diarahkan ke ruang dormitori. Sebelumnya saya sudah menerima potongan informasi bahwa biasanya di ruang dormitori kita akan ditempatkan berdua dengan petugas lain yang terkontaminasi lebih dulu. dan saya berharap akan seperti itu. Namun sedihnya, sesaat saya memasuki ruang dormitori ternyata saya akan tinggal sendiri selama beberapa hari kedepan di dalam. haha
Awalnya, saya cukup denial atau menolak bahwa saya benar-benar mengidap Covid-19 pada saat itu. Karena saya merasa tidak mengalami satupun gejala Covid seperti yang dikabarkan televisi dalam berita-beritanya. Sesak napas, demam, batuk-batuk, anosmia, kelelahan, tidak satupun gejala-gejala itu saya rasakan. mungkin akan ada pertanyaan, kalau tidak mengidap gejala apapun kenapa dilakukan swab PCR? jawabannya karena saat itu saya bertugas sebagai relawan Covid-19 yang setiap dua minggu sekali difasilitasi untuk dilakukan evaluasi pemeriksaan PCR. tentu untuk mencegah penularan Covid dari petugas kepada pasien yang sudah sembuh.
Hal lain yang membuat saya juga terpukul ialah karena stigma dari rekan kerja. sempat diceng-in atau diganggu dengan hujatan kalau imun tubuh lemah, payah. haha. yang mungkin maksudnya sekedar bercanda atau hanya memberi motivasi dan semangat dalam bentuk berbeda. tetapi sesekali jadi bahan refleksi saya, apa benar ya, tubuh lemah ini akan terdegradasi dari dunia seperti video-video penderita covid yang viral di china. apa benar ya, nyawa ini sebentar lagi akan punah. haha. pertanyaan menggelitik itu sesekali terpikirkan ditengah-tengah kesendirian dalam ruangan sepi dan hening tadi.
Pikiran-pikiran seperti ini juga datang tidak tiba-tiba. Sebelumnya juga ada diskriminasi dari tetanggga-tetangga kosan yang saya alami sendiri. Karena setiap berangkat ke rumah sakit atau tempat kerja selalu menggunakan seragam putih-putih. ya, seperti dipandang sebelah mata dan terkesan dijauhi. seolah profesi kesehatan pada awal pandemi itu hina. meskipun akhirnya di era pertengahan pandemi sudah banyak edukasi untuk mencerahkan paradigma masyarakat dari media massa. hingga akhirnya muncul skenario yang menganggap bahwa profesi kesehatan ialah pahlawan era pandemi.
Ditengah kesendirian nan mencekam, didalam ruangan yang bungkam. saya berkali-kali mencoba berbagai aktivitas agar terhindar dari kebosanan. Bagaimana tidak membosankan. Menjalani hari-hari sunyi dan sendiri sampai hampir dua bulan lamanya. lebih kurang 52 hari. hari demi hari merasa semakin terpenjara. Tidak bisa kemana-mana selain sepetak kamar dan toilet. mencoba menghabiskan waktu dengan menyapa teman-teman melalui media virtual. sesekali menyalurkan kesenangan dengan menulis cerita dan menggambar digital. meskipun masih harus banyak belajar, ada beberapa karya gambar di waktu isolasi mandiri yang menurut saya bisa dipamerkan. meskipun biasa saja. namun ceirtanya cukup bersejarah.
![]() |






Tidak ada komentar:
Posting Komentar