Peran dan Otonomi Perawat: Perspektif Global dan Perbandingannya dengan Indonesia




Pendahuluan

Perawat adalah tulang punggung sistem kesehatan di seluruh dunia, dikatakan sebagai tulang punggung karena perawat adalah profesi yang memberikan perawatan langsung kepada pasien di berbagai pengaturan klinis, baik Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik atau Fasilitas pelayanan kesehatan yang lain.

Peran perawat di mata global semakin diakui sebagai kunci dalam menyediakan perawatan kesehatan yang berkualitas. Salah satu faktor penting yang memengaruhi peran perawat adalah tingkat otonomi yang mereka miliki dalam praktik klinis. Namun sayangnya Peran tersebut berbanding terbalik dengan Peran perawat di negeri kita tercinta, Indonesia.

Artikel ini akan mengeksplorasi peran dan otonomi perawat di beberapa negara di seluruh dunia, sambil membandingkannya dengan situasi yang dialami oleh para tenaga perawat di Indonesia.


Peran dan Otonomi Perawat di Amerika Serikat

Di Amerika Serikat, perawat-praktisi (Advanced Practice Registered Nurse/APRN) memiliki otonomi yang signifikan dalam praktik klinis mereka. Mereka dapat membuat diagnosis, meresepkan obat, melakukan prosedur medis, dan memberikan perawatan independen di bawah kolaborasi dengan dokter atau secara mandiri, tergantung pada yurisdiksi negara bagian. Hal ini memberikan akses yang lebih besar bagi pasien, mengurangi waktu tunggu, dan meningkatkan aksesibilitas perawatan kesehatan.

Perbedaan peran perawat di Amerika Serikat (AS) dan Indonesia dapat dilihat dari beberapa aspek utama, termasuk pendidikan, tanggung jawab, otonomi dalam praktik klinis, dan pengakuan profesi. Berikut adalah penjelasan lebih detail mengenai perbedaan-perbedaan tersebut:

1. Pendidikan dan Kualifikasi

Amerika Serikat : Di AS, perawat dapat memperoleh gelar sarjana (Bachelor of Science in Nursing/BSN) atau gelar magister (Master of Science in Nursing/MSN) sebagai persyaratan dasar untuk menjadi perawat. Selain itu, perawat juga dapat memperoleh sertifikasi tambahan dalam spesialisasi tertentu, seperti perawat-praktisi (nurse practitioner), perawat anestesi (nurse anesthetist), atau perawat spesialis klinis (clinical nurse specialist).

• Indonesia : Di Indonesia, pendidikan perawat biasanya berfokus pada tingkat diploma (D3) atau sarjana (S1). Gelar yang diperlukan untuk menjadi perawat adalah Sarjana Keperawatan (S.Kep) atau Ahli Madya Keperawatan (Amd. Kep). Namun demikian, seiring dengan perkembangan, program pendidikan keperawatan yang lebih tinggi, seperti program magister (S2) dan doktor (S3), juga telah tersedia.

2. Tanggung Jawab dan Otonomi

 Amerika Serikat : Perawat di AS, terutama perawat-praktisi dan perawat spesialis klinis, memiliki tanggung jawab yang luas dalam praktik klinis mereka. Mereka dapat melakukan evaluasi, diagnosis, meresepkan obat, dan memberikan perawatan secara mandiri atau di bawah kolaborasi dengan dokter.

 Indonesia : Di Indonesia, peran perawat masih sering kali terbatas pada tugas-tugas administratif dan pendukung, serta membantu dokter dalam praktik klinis. Otonomi perawat dalam praktik klinis juga masih terbatas, dengan perawat sering kali harus mengikuti perintah dokter tanpa memiliki keputusan independen.

3. Pengakuan Profesi dan Kesejahteraan

 Amerika Serikat : Di AS, profesi perawat dianggap sebagai salah satu profesi yang penting dalam sistem kesehatan. Perawat memiliki otoritas dan pengakuan yang besar dalam menyediakan perawatan kesehatan, dan biasanya memiliki kesejahteraan ekonomi yang baik.

 Indonesia : Di Indonesia, meskipun peran perawat semakin diakui dalam sistem kesehatan, masih ada tantangan dalam pengakuan profesi dan kesejahteraan perawat. Perawat sering kali menghadapi tantangan seperti beban kerja yang tinggi, gaji yang rendah, dan kurangnya pengakuan atas kontribusi mereka dalam penyediaan perawatan kesehatan.

Peran dan Otonomi Perawat di Kanada

Negara-negara bagian Kanada juga memberikan otonomi yang besar kepada perawat-praktisi. Sebagai Registered Nurse Practitioner (RNP), mereka memiliki wewenang untuk membuat diagnosa, meresepkan obat, dan memberikan perawatan independen di bawah kolaborasi dengan dokter atau sesuai dengan pedoman praktik klinis. Ini telah membantu dalam mengatasi kekurangan dokter, terutama di daerah pedesaan atau terpencil.

Peran dan Otonomi Perawat di Inggris

Di Inggris, perawat-praktisi lanjutan (Advanced Nurse Practitioner/ANP) memiliki otonomi yang semakin besar dalam praktik klinis mereka. Mereka dapat membuat diagnosa, meresepkan obat, dan merujuk pasien ke spesialis. Ini telah membantu dalam mengurangi tekanan pada layanan kesehatan primer dan memberikan akses yang lebih cepat kepada perawatan yang dibutuhkan.

Peran dan Otonomi Perawat di Australia

Negara-negara bagian Australia juga memberikan otonomi yang signifikan kepada perawat-praktisi. Sebagai perawat-praktisi, mereka memiliki kemampuan untuk membuat diagnosa, meresepkan obat, dan memberikan perawatan independen atau di bawah supervisi tergantung pada yurisdiksi negara bagian. Ini telah membantu dalam meningkatkan aksesibilitas perawatan kesehatan, terutama di daerah terpencil.

Peran dan Otonomi Perawat di Indonesia: Tantangan dan Peluang

Di Indonesia, peran perawat masih sering kali terbatas pada tugas-tugas administratif dan pembantu dokter. Otonomi perawat dalam praktik klinis juga masih terbatas, dengan perawat sering kali harus mengikuti perintah dokter tanpa memiliki keputusan independen. Hal ini dapat menghambat efisiensi perawatan kesehatan dan membatasi akses pasien terhadap perawatan yang tepat dan berkualitas.

Namun, ada potensi besar untuk meningkatkan peran dan otonomi perawat di Indonesia. Dengan memberikan pendidikan dan pelatihan yang lebih baik, serta mendorong kebijakan yang mendukung praktik klinis yang mandiri, Indonesia dapat memanfaatkan potensi perawat untuk meningkatkan aksesibilitas dan kualitas perawatan kesehatan di seluruh negara.

Kesimpulan

Peran dan otonomi perawat memiliki dampak yang signifikan dalam penyediaan perawatan kesehatan di berbagai negara. Sistem kesehatan yang efektif dan efisien membutuhkan partisipasi aktif perawat dalam praktik klinis mereka. Melalui kebijakan yang mendukung dan pendidikan yang tepat, perawat dapat menjadi kekuatan yang kuat dalam meningkatkan kesehatan masyarakat dan memenuhi kebutuhan pasien di seluruh dunia.

Referensi

Berikut adalah daftar referensi untuk artikel ini:

Hamric, A. B., Hanson, C. M., Tracy, M. F., & O'Grady, E. T. (2013). Advanced Practice Nursing: An Integrative Approach (5th ed.). Elsevier Health Sciences.

American Association of Nurse Practitioners. (n.d.). Scope of Practice for Nurse Practitioners. Diakses dari https://www.aanp.org/practice/practice-management/scope-of-practice

Canadian Nurses Association. (2021). Nurse Practitioner (NP). Diakses dari https://www.cna-aiic.ca/en/nursing-practice/the-practice-of-nursing/advanced-nursing-practice/nurse-practitioner          

NHS England. (2021). Advanced Practice. Diakses dari https://www.england.nhs.uk/nursingmidwifery/advanced-practice/

Australian College of Nursing. (2021). Nurse Practitioner Standards for Practice. Diakses dari https://www.acn.edu.au/standards/nurse-practitioner-standards-practice

Kemenkes RI. (2021). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Diakses dari https://www.kemkes.go.id/resources/download/info-terkini/hasil-riskesdas-2018.pdf         

Indonesian National Nurses Association (INNA). (2021). Pedoman Praktik Keperawatan Indonesia. Diakses dari https://innajatim.or.id/v1/storage/files/pedoman_praktik_keperawatan_indonesia.pdf     

Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. (2016). Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit. Diakses dari Website : https://pusrehabilitasi.kemkes.go.id/folder_standar/gajih/pdf/Standar%20Pelayanan%20Minimal%20Rumah%20Sakit%202016.pdf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages