Semesta Terlalu Luas Untuk Pikiran Yang Sempit

 -ditulis sejak Desember 2020, diposting sebagian diportal facebook

    Bahwa kehidupan kita saat ini, yang kadangkala tidak pernah kita hargai ini, barangkali menjadi cita-cita banyak orang diluar sana. Kita selalu menganggap salah satu profesi selalu lebih baik dari profesi lain. Kita selalu menganggap bahwa seseorang lebih baik dari dirikita sendiri. Kita selalu meng-istimewakan satu posisi dan mengkerdilkan posisi lain. tidak jarang kita mengucilkan orang lain, dan mendewakan diri sendiri. Padahal setinggi-tingginya derajat kita dimata insan selalu saja sama dihadapan Tuhan. Tidak ada yang spesial atau bahkan lebih di hadapanNya.  Kita bersujud sama rendah di atas lantai, berdoapun tangan sama semampai dengan dada. 

    Pun begitu, masih ada saja yang begitu hebat mencaci dan mencibir kita. Hanya karena beberapa langkah kita pernah terjatuh. Atau justru ada beberapa jalan yang kita kehendaki berbeda dengan orang lain. Namun ada satu hal yang harus kita ingat. Bahwa tidak pernah ada istilah gagal. Yang ada hanyalah belajar. Karena itu ada "long life learning". yaitu proses belajar yang lama bahkan hingga sepanjang hayat. Belajar yang saya maksud tentu saja bukan hanya soal sekolah di tempat-tempat formal, kuliah atau apapun semacamnya. Tidak, Kita bukan insan-insan yang berpikir sekerdil itu. 

    Kita adalah pribadi yang berpikir lebih jauh dan terbuka. Bahwa kita hanyalah murid yang sama di universitas kehidupan. Tidak ada stratifikasi sosial, berdasar tinggi rendahnya jabatan atau pendidikan apalagi berdasarkan harta kekayaan.

    Saya teringat dengan kisah yang saya alami sendiri pada saat kuliah. kala itu tahun 2016 disuatu kota disulawesi bagian selatan. sebut saja Makasar. kala itu saya salah satu mahasiswa yang cukup kritis terhadap birokrat kampus. saya selalu memposisikan diri untuk kontra dengan kebijakan kampus yang menurut saya cukup merugikan untuk mahasiswa. saya pantang tunduk, pantang taat dan pantang patuh terhadap keputusan-keputusan yang menurut saya merugikan. saat itu kebijakan dekanat cukup membuat saya geram. bayangkan saja, pihak dekanat memutuskan menaikkan biaya praktik lapangan tanpa dasar. ditengah-tengah kejelasan akreditasi kampus dan prodi yang simpang-siur. kampus menaikkan sepihak biaya praktik tanpa melibatkan perwakilan mahasiswa. bagi saya itu adalah keputusan otoriter. keputusan tersebut bertentangan dengan tujuan pendidikan yang mana kampus merupaan lingkungan yang seharusnya demokatis. sehingga saya mencoba mengkonsolidasikan kebijakan tersebut dengan teman-teman lintas angkatan. memutuskan untuk sama-sama memprotes kebijakan tersebut. meminta agar dekanat meninjau kembali putusannya demi kepetingan mahasiswa.


    Singkat cerita, dibalik gambar sederhana ini, terdapat berbagai macam drama yang dibuat oleh pihak kampus. drama dimana beberapa lembar berita acara nilai mata kuliah pribadi saya di sobek oleh salah satu ketua prodi, karena mengangap bahwa saya merupakan saah satu yang memprovokasi mahasiswa lain. 

    Ada drama dimana pihak kampus membuat aksi tandingan yang dipelopori oleh mahasiswa lain seolah-olah menentang aksi protes yang kami lakukan. yang pasti jumlahnya lebih sedikit dari jumlah aksi yang kami lakukan. ahaha. mungkin hanya sekitar 3 ekor. saya putuskan memanggil mereka ekor, karena bagi saya mereka hanya anjing-anjing yang dipelihara oleh birokrat.

    Ada drama dekanat memutuskan membuat acara "Hari Duka Fakultas Keperawatan" ditandai dengan seluruh staff fakultas memakai gaun berwarna hitam dan pita hitam di lengan baju mereka. sebagai simbol bahwa sedang berduka karena tiadanya etika mahasiswa di lingkungan kampus ditandai dengan kompaknya kami menyuarakan protes. aksi melawan dari fakultas ini juga diikuti dengan semua mahasiswa yang memprotes kebijakan dekanat dikumpulkan dalam satu ruangan, dengan situasi semua HP disita, dengan tujuan agar semua orang tidak ada yang bisa melakukan rekam atau foto. lalu mereka mengundang pihak kepolisian dan salah satu pengacara universitas untuk mengancam kami di drop-out dan diproses menuju meja hijau. semua itu dilakukan agar kami bungkam. tentu saja tidak, pada situasi tersebut saya dan teman-teman tidak memutuskan untuk berhenti dan diam. melainkan suara kami makin lantang. saya keras menentang bahwa kejadian seperti tidak patut dilakukan oleh institusi pendidikan. hingga keluar statement bahwa 

"indra, kamu tidak akan menjadi apa-apa!"

    Sebuah kalimat yang cukup arogan keluar dari mulut seorang petinggi institusi pendidikan. sebuah kalimat yang seolah menyatakan bahwa mereka dan keputusan-keputusannya ialah yang terbaik. tanpa mempertimbangkan berbagai macam masukan dari orang lain. sikap yang antikritik ini  merupakan benih dan bumerang dari hancurnya ruh pendidikan suatu bangsa.

    Semenjak hari itu, fakultas semakin sering menjadi arogan. bayangkan saja. saya yang merupakan salah satu mahasiswa dengan indeks prestasi kumulatif tertinggi tidak dianggap pada saat wisuda dan yudisium. bahkan nama saya tidak disebut kala itu, padahal jika dihitung matematis IPK saya merupakkan tertinggi kedua di fakultas, dengan arogansinya fakultas malah menyebut orang lain yang notabene IPK nya dibawah saya. kocak bukan. namun dengan berbesar hati saya membiarkan. bagi saya prestasi tidak butuh pengakuan.

    Setelah lulus jenjang Strata-1 di fakultas dan universitas antikritik tersebut, saya memutuskan untuk pindah kampus didaratan jawa. saya muak dengan budaya kesombongan dikampus arogan. saya memutuskan mengajak lima belas teman angkatan saya yang lain untuk melanjutkan studi disalah satu kampus di kediri. 


    Saya menjadikan kalimat underestimate tadi sebagai motivasi awal saya untuk berkuliah. dilingkungan yang baru dan progresif tentunya. saya ingin membuktikan bahwa nasib kita tidak ditentukan oleh ungkapan orang lain. bahwa masa depan kita diatur oleh tuhan bukan malah ketua Prodi. hahah.

Singkat cerita, saya melakukan rutinitas yang sebetulnya biasa-biasa saja. namun entah mengapa di lingkungan kampus yang baru ini membuat saya sedikit berbeda. saya sedikit lebih ambisius dari biasanya. saya berambisi untuk saling merangkul satu sama lain. saya tidak memiliki ambisi pribadi, apalagi untuk membalas dendam pribadi dikampus lama. terutama mengenai lulusan terbaik tadi, hehe.


    Anehnya, saat kelulusan saya di daulat sebagai lulusan terbaik. ini tentu diluar dugaan saya.


    Sebetulnya saya merasa ini bukan prestasi yang hakiki. ini hanyalah seuntai kisah kehidupan dari perjalanan yang semu. saya ingin mengatakan bahwa sejatinya kita bukan apa-apa. kita bukan siapa-siapa. kita hanyalah makhluk pembelajar yang sesekali diapresiasi oleh Tuhan atau orang lain. bukti-bukti ini tentu belum cukup. masih besar ambisi untuk membuktikan bahwa kalimat "tidak akan menjadi apa-apa" adalah konklusi yang salah dari premis yang sama. kita bukan tidak akan menjadi apa-apa, melainkan kita bukan apa-apa. kita bukan siapa-siapa. tanpa Tuhan di belakang kita.

Semesta terlalu luas untuk pikiran yang sempit

1 komentar:

Pages