LEGENDA BUTON :
Ditulis dan dikarang Oleh : Indra Yadi Muin
Terdapat sebuah cerita legenda dari suatu kerajaan besar di semenanjung tenggara pulau sulawesi. Kerajaan yang telah eksis selama ratusan tahun lamanya. Konon kerajaan tersebut telah berdiri semenjak pertengahan abad ke-14, tepatnya sejak tahun 1332 Masehi. Lalu kerajaan tersebut memutuskan untuk menganut asas islam pada tahun 1542 Masehi, pertengahan abad ke-16. Semenjak itu, kerajaan tersebut merubah sistem pemerintahannya menjadi lebih islami, yang dikenal sebagai kesultanan. Dunia mengenalnya sebagai Kesultanan Buton (Butuni).
Pada zaman itu, kepemimpinan islam sedang dalam masa kejayaannya. Dimana dua pertiga daratan bumi berada dibawah payung kepemimpinan kekhalifaan islam. Sebagaimana kesultanan lain yang tunduk dan patuh terhadap titah khalifah, seorang pemimpin tertinggi umat islam diseluruh dunia. Begitupun sultan Buton yang saat itu tengah dipimpin oleh seorang sultan yang karismatik dan berwibawa, Sultan Muhammad Umar.
Pada akhir abad ke-19, terdapat isu yang menggentarkan seluruh kesultanan islam didunia. Yaitu isu kemunduran peradaban islam di era kekaisaran Ottoman atau Kesultanan Utsmaniyah. Sehingga Khalifah mendesak untuk mengadakan musyawarah, dan memutuskan untuk mengumpulkan seluruh kesultanan dibawah kepemimpinannya. Khalifah mengedarkan undangan dengan cepat. Sehingga sampailah ditangan Sultan Muhammad Umar. Pesan dalam surat tersebut singkat :
"Sehubungan dengan munculnya tanda-tanda kemunduran peradaban islam dipayung kekaisaran Ottoman, yang mulai tergerus arus modernisasi eropa. Khalifah dengan hormat mengundang seluruh Sultan yang bernaung dibawah kekhilafaan. Untuk datang berkumpul di semenanjung Turki dan membahas langkah prefentif. Titah ini bersifat krusial dan mendesak"
Sultan Muhammad Umar dengan penuh semangat membaca surat yang dikirim oleh khalifah tersebut. Namun karena kondisi kesultanan Buton saat itu sedang tidak kondusif untuk ditinggalkan. Sultan akhirnya memutuskan untuk mendelegasikan beberapa diplomat ulung untuk hadir dan mewakilinya pada musyawarah tersebut. Sultan bergegas memanggil Kapitalao (Istilah untuk panglima angkatan laut dalam kesultanan buton) untuk persiapan ekspedisi. Dan menginstruksikan segera menyiapkan kapal besar terbaiknya. lalu mengutus nahkoda serta awak kapal ahli dan kompeten disemenanjung Buton.
Kapitalao mengutus dua belas orang untuk berlayar mengarungi lautan. Satu orang sebagai nakhoda kapal, ia bernama La Sarifu. Dua orang sebagai delegasi sultan, dua diplomat terbaik di kesultanan Buton. Muhammad Kaimuddin, seorang yang menguasai delapan bahasa dengan ilmu spiritual yang tinggi didampingi oleh La Hamidi, sang negosiator dan mediator ulung. Tiga orang sebagai Officer, Dua orang sebagai awak Deck dan empat orang lainnya sebagai Helper. dengan menumpangi kapal uap layar, salah satu kapal tercanggih yang kesultanan Buton miliki pada zaman itu.
Sehari sebelum pelayaran, Kapitalao telah melakukan Breafing berkali-kali kepada 12 orang yang sudah ditunjuknya. Segala jenis persiapan telah dipersiapkan dengan matang. Mulai dari mengarahkan rute perjalanan selama pelayaran, kebutuhan logistik, bahan bakar hingga langkah evakuasi apabila kemungkinan terburuk terjadi kecelakaan.
Rencananya ekspedisi panjang mereka akan dimulai dengan mengarungi laut flores dan laut jawa, selanjutnya menuju selat malaka. Dari selat malaka menyebrang ke selat andaman. Dari andaman menyebrangi teluk benggala lalu singgah ke Sri Lanka. selama perjalanan melewati rute tersebut, Kapitalao mempersilahkan singgah ke pulau atau daratan terdekat untuk memperbaharui logistik dan bahan bakar kapal. Dengan tetap menaruh kepercayaan kepada La Sarifu sebagai nakhoda. Kemudian dari sri lanka melewati laut arab hingga menuju laut merah. dari laut merah mereka harus menepi di Yordania dan melakukan perjalanan darat menuju Turki. Perjalanan sepanjang itu, harus ditempuh selama 45 hari.
"Pelayaran yang sesungguhnya ada pada rute ini", kapitalao menunjuk salah satu titik peta
"mulai dari sri lanka menuju laut merah", Ucap Kapitalao dengan tegas.
Sehari sebelum pelayaran, Kapitalao telah melakukan Breafing berkali-kali kepada 12 orang yang sudah ditunjuknya. Segala jenis persiapan telah dipersiapkan dengan matang. Mulai dari mengarahkan rute perjalanan selama pelayaran, kebutuhan logistik, bahan bakar hingga langkah evakuasi apabila kemungkinan terburuk terjadi kecelakaan.
Rencananya ekspedisi panjang mereka akan dimulai dengan mengarungi laut flores dan laut jawa, selanjutnya menuju selat malaka. Dari selat malaka menyebrang ke selat andaman. Dari andaman menyebrangi teluk benggala lalu singgah ke Sri Lanka. selama perjalanan melewati rute tersebut, Kapitalao mempersilahkan singgah ke pulau atau daratan terdekat untuk memperbaharui logistik dan bahan bakar kapal. Dengan tetap menaruh kepercayaan kepada La Sarifu sebagai nakhoda. Kemudian dari sri lanka melewati laut arab hingga menuju laut merah. dari laut merah mereka harus menepi di Yordania dan melakukan perjalanan darat menuju Turki. Perjalanan sepanjang itu, harus ditempuh selama 45 hari.
"Pelayaran yang sesungguhnya ada pada rute ini", kapitalao menunjuk salah satu titik peta
"mulai dari sri lanka menuju laut merah", Ucap Kapitalao dengan tegas.
'' Rute ini adalah rute paling rawan, sudah banyak kapal yang celaka bahkan tenggelam"
"Jika melihat gelombang tinggi, menepilah ke daratan terdekat", kembali mengingatkan kepada seluruh utusannya.
Dikeesokan harinya, lapisan masyarakat kesultanan memadati pelabuhan. Bersiap melepas pelayaran yang cukup panjang. Demi merepresentasi masyarakat Buton dan nama baik kesultanan. Dihadapan pimpinan tinggi umat islam, Khalifah. Ekspresi masyarakat kala itu berseri-seri.
Sebelum melepas para pelayar menuju semenanjung turki, Sultan Muhammad Umar mengadakan upacara pelepasan secara resmi ditengah pelabuhan.
"Amadaki-amadakimo arataa Solana bholi o karo, Amadaki-amadakimo karo Solana bholi o lipu, Amadaki-amadakimo lipu Solano bholi o sara, Amadaki-amadakimo sara Solano bholi o agama..."
begitulah teriakan sultan yang penuh semangat ditengah-tengah pidato pelepasannya. sebuah pesan mendalam dan penuh filosofi yang sudah mengakar di tengah masyarakat Buton. untaian pesan yang bermakna bahwa :
"serusak-rusaknya harta, asalkan jangan rusak kepribadian kita, serusak-rusaknya kepribadian asalkan jangan rusak bangsa, serusak-rusaknya bangsa asal jangan rusak pemerintahan, serusak-rusaknya pemerintahan asalkan jangan rusak Agama" sebuah pemahaman yang bermakna bahwa agama merupakan prioritas diatas segala-galanya.
"kalian berduabelas ini adalah utusan kesultanan terbaik untuk memperjuangkan Agama islam, di tengah kemundurannya"
di tengah pidato sultan tersebut, banyak reaksi haru dari masyarakat. Sedang mata dari keluarga para pelayar berkaca-kaca. sultan menutup upacara dengan lantunan doa. setelah itu masyarakat sambil bergantian memeluk haru 12 pelayar terbaik kesultanan, yang sebentar lagi akan tiba didaratan eropa. untuk mewakili Kesultanan Buton dalam musyawarah terbesar pada abad itu.
Disaat alarm keberangkatan kapal mulai dibunyikan tiga kali.
"Buuuuuuuuuuuuup....
Buuuuuuuuup....
Buuuuuuuuuup!!!"
Pertanda bahwa ekspedisi telah dimulai. La Sarifu memerintahkan agar jangkar kapal segera dinaikkan serta layar kapal dibentangkan. Serempak pelayar dilepas dengan riuhnya tepukan tangan, beberapa orang melambaikan tangan, beberapa lain bahkan melepasnya dengan tangisan haru.
Awalnya ekspedisi berjalan sesuai rencana. Perjalanan mengarungi laut flores menuju laut jawa berjalan lancar, menepi sebentar di daratan jawa. dari lautan jawa menuju selat malaka, La Sarifu sebagai nahkoda memutuskan singgah sebentar di kepulauan bangka dan melaka untuk memperbaharui persediaan makanan dan bahan bakar. dari melaka mengarungi selat Malaka, laut Andaman hingga teluk benggala untuk menuju sri lanka. dari Sri lanka melewati laut arab menuju teluk aden dan laut merah.
Disaat alarm keberangkatan kapal mulai dibunyikan tiga kali.
"Buuuuuuuuuuuuup....
Buuuuuuuuup....
Buuuuuuuuuup!!!"
Pertanda bahwa ekspedisi telah dimulai. La Sarifu memerintahkan agar jangkar kapal segera dinaikkan serta layar kapal dibentangkan. Serempak pelayar dilepas dengan riuhnya tepukan tangan, beberapa orang melambaikan tangan, beberapa lain bahkan melepasnya dengan tangisan haru.
Awalnya ekspedisi berjalan sesuai rencana. Perjalanan mengarungi laut flores menuju laut jawa berjalan lancar, menepi sebentar di daratan jawa. dari lautan jawa menuju selat malaka, La Sarifu sebagai nahkoda memutuskan singgah sebentar di kepulauan bangka dan melaka untuk memperbaharui persediaan makanan dan bahan bakar. dari melaka mengarungi selat Malaka, laut Andaman hingga teluk benggala untuk menuju sri lanka. dari Sri lanka melewati laut arab menuju teluk aden dan laut merah.
Namun sebelum sampai dilaut merah, tepatnya di pertengahan laut arab. Pasca bertolak dari Sri Lanka. Cuaca mulai memburuk. Langit yang tadinya membiru berubah menjadi gelap. Angin bertiup mulai kencang, Curah badai dan gelombang ombak mulai meninggi. Kapal yang ditumpangi para pelayar Buton tadi mulai terombang-ambing ditengah lautan luas. dihantam ombak yang begitu hebatnya, sehingga genangan air laut memasuki ruang-ruang kapal. Membuat para pelayar mulai panik ketakutan. apalagi hujan deras mulai berjatuhan membasahi layar dan ruas-ruas kapal serta selasarnya.
"Tidak perlu panik dan tetap tenang!!" Teriak La Sarifu sang nahkoda kapal didepan meja kemudi. ia berusaha menenangkan anak buah dan diplomatnya,
Angin kencang datang dari arah berlawanan dengan kapal, ombak tinggipun menyusul menghantam kapal dari arah yang sama. membuat kapal hampir koyak dan sedikit lagi tenggelam. La sarifu sang nahkoda berusaha mempercepat laju kapal untuk melawan angin dan arah ombak.
"Kapitan, didepan ada ombak raksasa, sebentar lagi kita punah..!" Teriak La Awi petugas awak dek sambil gemetar.
"Evakuasi Darurat!!!" Jawab La Sarifu
Naas. kapal tidak sanggup lagi bertahan ditengah lautan yang ganas. kapal para pelayar menyerah tenggelam dihempas badai dan ombak puluhan meter tingginya. sementara petugas kapal yang tengah bersiap memakai pelampung untuk evakuasi. kru kapal bersiap berenang menanggalkan kapal ditengah lautan yang deras dimana tidak ada daratan dan jauh dari bala bantuan.
Kapalpun terbelah akibat kebocoran, kerusakan mesin dan badai yang parah. para pelayar sudah terpisah ditengah lautan. hanya terlihat Muhammad Kaimuddin disana. yang lain tidak tersisa, entah terombang-ambing dimana. sang diplomat senantiasa berdoa ditengah kepanikannya. ia merupakan salah satu yang paling tenang ditengah kepanikan kru kapal yang lain. Muhammad Kaimuddin senantiasa merefleksi diri dan menerima kenyataan bahwa ia mungkin tidak akan selamat. ia senantiasa bertawakkal ditengah kegundahannya.
Sudah tiga jam berlalu, kapal buton karam ditengah lautan arab. Tanda-tanda datangnya bala bantuan nihil. Tak seorang pun terlihat disepanjang mata Muhammad Kaimuddin memandang. Ia masih berusaha menyelamatkan diri dari lautan. sambil sesekali menghempaskan kedua kakinya agar bertahan dipermukaan laut. Muhammad Kaimuddin sudah gemetar kedinginan. ia senantiasa bertaubat sambil memohon pertolongan kepada sang kuasa, Allah SWT. ditengah keputus-asaannya, Muhammad Kaimuddin menyempatkan membaca Doa Hajat, yang dipercaya sebagai doa paling mustajab. perlahan-lahan ia baca sambil menghela napas. Terbesit di sanubari Muhammad Kaimuddin bahwa ia ridho untuk di ambil nyawanya detik itu juga. Ia pun bersumpah :
"Demi Kabarakatina tanah wolio, Salamati yaku sii"
yang berarti bahwa "Demi Berkahnya tanah Buton, selamatkan saya"
"Saya bersumpah kepada pemilik Langit dan Bumi termasuk didalamnya lautan dan makhluk diantaranya, Selamatkan saya". Muhammad Kaimuddin Melanjutkan doanya.
Namun karunia apa yang diberikan tuhan, tiga jam setelah ia bersumpah demikian. disaat ia sudah berputus-asa, dimana napasnya pun hampir habis. datanglah tiga ekor Ikan dalam bentuk yang besar. dalam legenda buton disebutkan spesies ikan tersebut ialah Ikan Ruma-ruma, Ntala-ntala dan Ikan tungiri. tiga ekor induk ikan tersebut datang berbaris berdampingan dan berusaha menyelamatkan Muhammad Kaimuddin dari lautan arab. Tiga ekor induk ikan tersebut membawanya kedaratan pesisir laut merah, daerah Murad daratan arab. sesampainya di pesisir. Muhammad Kaimuddin berterimakasih dan bersumpah pada ketiga spesies induk ikan tersebut.
"Saya bersumpah, Saya dan Tujuh turunan saya akan kualat jika makan anak keturunanmu" Ucap Muhammad Kaimuddin.
Muhammad Kaimuddin pun memutuskan melanjutkan perjalanan dan ekspedisinya bertemu khalifah.
Catatan :
Cerita legenda ini fiktif
adaptasi dari dongeng sebelum tidur yang didengar penulis saat kecil, yang dibacakan berulang-ulang oleh ayah penulis. juga dikaitkan berdasarkan fenomena besar dalam sejarah. dan menambahkan beberapa plot dan dialog imajinatif penulis serta mayoritas nama tokoh disamarkan tanpa mengubah sedikitpun esensi cerita.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar