ANTARA GURU, ORANGTUA DAN KEDUANYA
-Indra Yadi Muin
Diposting 6 April 2018 di portal facebook
Banyak hal yang dapat kita kerjakan sebagai manusia. Namun pekerjaan yang paling mulia di mata saya adalah menjadi "Orangtua" dan "guru"
Sebagai seorang guru, harus bisa mengajarkan dan melatih potensi-potensi baik yang ada pada diri murid-muridnya. Mentransmisikan nilai dan hal-hal baik untuk dapat dipergunakan murid-muridnya kelak. Menanamkan mimpi sebesar mungkin pada jiwa murid-muridnya dengan harapan dapat dicapainya nanti.
Sebagai orangtua, tentu harus dapat dengan tulus membesarkan dan merawat anak-anaknya. Memberikan perhatian selebih-lebihnya pada anak. Tentu dengan kasih sayang khusus yang hanya ada pada "orangtua". Namun orangtua yang cerdas dapat berperan sekaligus menjadi seorang "guru". Dengan ikhlas mengajarkan norma dan nilai-nilai positive pada anaknya. Menanamkan mimpi untuk keberlangsungan harapan hidup sang anak. Itu mutlak.
Meski pada dasarnya, tidak semua orangtua bisa melakukannya.
Dan tugas dari keduanya ; sungguh sama beratnya.
Namun, bagaimana jika ada seorang guru yang sekaligus berperan menjadi orangtua?
Langka !!!
Guru yang terlalu tangguh.
Bagaimana bisa seorang guru dapat bertahan pada berkali-kali meneteskan airmata. Kembali selalu tersenyum meski selalu tersakiti.
Bagaimana bisa seorang guru dengan mudahnya melupakan rasa sakit yang diproduksi oleh jiwa-jiwa panas muridnya, dan membalasnya dengan senyuman yang paling ikhlas.
Bagaimana bisa seorang guru seakan tak pernah merasa menyesal pernah bertemu dengan murid-murid yang paling bandel sejagad. Mereka "sang guru hebat" tadi tak pernah menyerah meladeni "kenakalan remaja" yang tengah di derita oleh segelintir muridnya.
Meski banyak perlakuan tak mengenakkan yang selalu dilakukan oleh murid bandel nya itu.
Meneriakkan kata-kata dengan lantang. Membunyikan segala benda yang ada disekitar. Merendahkan mereka. Melakukan segala hal yang tak terhormat. Menentang semua titahnya dan tak pernah di indahkan. Menyakiti hatinya. Tak pernah menghargainya.
Dan terlalu banyak. Terlalu banyak !!!
Mereka rela mengabaikan rasa sakit yang teramat pahit itu. Seakan tak pernah diperlakukan secara tak terhormat.
Matanya pernah berkaca-kaca ketika menahan rasa yang membuatnya penat seharian penuh. Seakan ingin menyampaikan ke kami secara tersirat.
"Nak, sudahlah... disana ada masa depanmu!!"
Mereka pernah meneteskan airmata hingga berkali-kali. Entah karena sakit hati yang tak tertahan atau justru karena mereka terharu, selalu mendoakan yang baik pada muridnya yang paling bandel.
Mata dan wajah mereka pernah memerah. Entah karena marah teramat sangat atau justru karena menahan kalimat-kalimat sayang yang tak ingin mereka deskripsikan. "Nak, cukuplah... masa depanmu sedang menunggu!"
Kasih sayang mereka tampak begitu jelas, meski mereka tak pernah mengatakannya secara jelas.
Hebat bukan?
Saya pun percaya, saat ini mereka sedang menitipkan satu kalimat pada tuhan. "Mudahkan langkah mereka menuju kesuksesan" senada seperti apa yang pernah mereka sampaikan ke kami saat kami hendak pamit dan mencium tangannya. "Sukses Nak!"
Karakter itu yang melekat pada guru yang terlalu hebat di mata saya. Salah satu murid yang paling bandel.
Seketika saya teringat dengan anekdot bahwa ;
"Satu orang hebat menghasilkan karya-karya hebat, namun satu guru hebat menghasilkan banyak orang-orang hebat"
Kita tinggal menunggu waktu untuk membuktikan akurasi dari anekdot kalimat tersebut.
Seberapa banyak murid kalian yang kelak menjadi hebat. Dan aku-kah salah satunya?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar