ALASAN WANITA DICIPTA

ALASAN WANITA DICIPTA



"Kamu umur berapa nak?"
"Masih muda pak, masih usia duapuluhan"
"Sudah nikah nak?"
"Belum pak, masih dalam pencarian, hehe"
"Begini nak, sebelum menikah kamu harus tahu alasan dibalik penciptaan wanita, sudah tahu?!"

Kira-kira begitulah awal percakapan yang terbangun antara saya dan kakek tua di warung kopi lesehan pinggir jalan.

Meski tidak begitu fanatik dengan kopi, tapi saya lebih suka menjajal kopi-kopi dipinggir jalan ketimbang di cafe-cafe mewah. Selain citarasanya kuat dan sederhana, yang tentu dibuat dari peralatan tradisional. Jajanan kopi dipinggir jalan juga menyuguhkan suasana yang hidup dan melekat. Karena kIta bisa berbincang terbuka dengan siapapun walau tak pernah saling kenal sebelumnya. Suasana ini yang tidak pernah dijual cafe-cafe mewah kota metropolitan. Dicafe mewah kita hanya melihat banyak kesombongan dan kepalsuan. Tidak pernah ada saling tegur sapa. Kamu adalah kamu dan saya adalah saya. Semuanya fokus dimasing-masing layar ponselnya. Main game, youtube-an facebookan, entahlah. Banyak dari mereka datang hanya untuk menikmati wi-fi bukan malah kopi.

Oh ya, lanjut dengan topik yang sudah dimulai kakek tua tadi. Setelah pertanyaan menarik tadi diajukannya. Saya memilih enggan lama-lama berpikir. Rasa penasaran saya jauh lebih tinggi dibanding kemampuan saya berpikir saat itu.

Singkat saya jawab, "Belum tahu pak".

"Naah, dengar baik-baik nak. Jauh sebelum ada peradaban didunia seperti ini. Pernah hidup seorang laki-laki tua sebatang kara. Beeertahun-tahun lamanya sendiri. Kakek buyut kita semua, kakek dari seluruh umat manusia. Namanya Adam. Saat itu ia masih tinggal disurga. Berbagai kenikmatan tuhan beri tanpa jeda. Apapun yang Adam minta akan diberikan. Makanan nikmat, minuman segar, tempat tinggal mewah dan segala fasilitas surga ia bisa nikmati sendiri. "

"Hingga bertahun-tahun kemudian. Ia akhirnya merasa kesepian. Merasa seperti ada yang belum lengkap. Adam akhirnya merasa bahwa ia butuh pendamping. Teman yang serupa dengannya. Lalu Adam memberanikan diri untuk mengajukan permintaannya pada Tuhan. Dan Tuhan seketika memberi tiga syarat pada Adam sebelum mengabulkan permintaannya. Tiga syarat yang harus disanggupi oleh Adam"

"Apa itu pak?". Saya potong dengan penasaran

Lalu kakek itu menjawab dengan seolah menirukan suara Tuhan pada Adam
"Pertama, kamu harus sanggup melindunginya dari apapun. Kedua, jika suatu hari dia melakukan kesalahan, kamu harus sanggup memaafkannya. Dan ketiga, kamu harus sanggup mengarahkannya (meluruskan) dan menasihatinya."

"Paham!!?"
"Paham pak!"
"Setelah Adam mendengar tiga syarat tersebut, ia menyanggupi ketiga-tiganya. Dari situlah Tuhan akhirnya menciptakan wanita yang kemudian diberi nama Hawa."

"Jadi nak, tiga ikrar itulah yang harus menjadi pegangan semua laki-laki didunia ini sebelum ijab waktu menikah nanti"

"Jadi nak, kita laki-laki ini sebenarnya tidak punya alasan untuk menyakiti wanita. Karena dahulu, kita pernah berikrar dihadapan Tuhan. Untuk melindungi, memaafkan, dan mengarahkan wanita. Sesalah-salahnya wanita, laki-laki sedikitpun tidak punya hak untuk menyakiti apalagi sampai memukul dan menyiksa. Suatu saat nanti, kalau kamu punya istri. Kamu harus menempatkan dirimu bukan sebagai raja. Tapi sebagai pelayan yang melayani ratumu."

"Siap pak!"

Lalu akhirnya kami mengalihkan pembicaraan pada topik lain.
Setelah pembicaraan itu, kakek tersebut banyak cerita tentang masalalunya. Ternyata kakek ini punya masalalu yang cukup kelam dalam kehidupan rumah tangganya. Ia memberi nasehat agar penyesalan yang ia rasa tidak dirasakan oleh anakmuda seperti saya.

"Terimakasih nasehatnya, kek!"

Terlepas percakapan antara Adam dan Tuhan diatas benar-benar terjadi ataupun tidak. Paling tidak ada pelajaran yang disampaikan kakek itu untuk semua laki-laki. Terutama dalam menghargai dan memuliakan wanita.

1 komentar:

Pages