Virus Stigma VS Virus Corona
Karena datangnya tiba-tiba dan tanpa aba-aba, virus corona menjadi momok yang benar-benar menakutkan bagi masyarakat indonesia saat ini.
Yah, bagaimana tidak menakutkan. Sudah hampir tiga juta penduduk dunia terkontaminasi dengan virus ini. Dan hampir dua ratus ribu jiwa diantaranya meninggal dunia.
Di Indonesia sendiri perhari ini angkanya hampir mencapai sepuluh ribu orang terkontaminasi dan hampir seribu jiwa meninggal dunia.
Sontak masyarakat kita jadi kelabakan. Panik luar biasa. Yaah meskipun tidak semua. Masih ada beberapa yang ngeyel. Dan berlaga kebal merasa virus tidak akan mempan menginvasi tubuhnya. Mungkin karena mereka merasa punya jampi-jampi mewah titipan kakek-neneknya sejak zaman belanda. Tapi tak apalah.
Pada kasus ini mari kita menyoroti masyarakat kita yang kepanikan. Secara psikologis, perasaan panik merupakan bentuk kecemasan dan ketakutan luar biasa sehingga tidak memiliki kemampuan mengendalikan dirinya. Penyebab kepanikan ini umumnya adalah ketidaktahuan. Nah, pada kasus corona sekarang ini, masyarakat kita merasa virus ini seolah gentayangan dan melayang-layang di udara. Padahal sudah berkali-kali kita jelaskan bahwa corona penularannya melalui droplet atau airliur.
Tapi sepenuhnya kita tidak akan menyalahkan masyarakat. Kami menyadari bahwa persepsi seseorang bergantung pada wawasan dan pengetahuannya. Kami menyadari bahwa tingkat pendidikan masyarakat kita masih jauh dibawah rata-rata. Namun kami menyayangkan sikap stigmatisasi masyarakat pada beberapa profesi tenaga kesehatan. Baik dokter, perawat maupun bidan.
Sebut saja pada beberapa kasus penolakan masyarakat pada jenazah perawat yang jatuh bangun merawat pasien COVID-19 ini. Seperti jenazah perawat Nuria Kurniasih yang ditolak oleh warga untuk dimakamkan dikampung halamannya sendiri. Bukankah ini sebagian dari bentuk diskriminasi. Menyedihkan. Akhirnya jenazahnya terpaksa dimakamkan di area Rumah Sakit tempat ia bekerja. Yakni di RS Kariadi semarang.
Bukan hanya perawat Nuria saja, survei terbaru menunjukkan bahwa ada ribuan kasus stigmatisasi yang berkembang terhadap petugas kesehatan seperti Dokter, Perawat dan Bidan. Mereka di usir dari tempat tinggalnya, di Bullying, di Cibir dan di cacimaki oleh warga sekitar.
Saya sendiri, semenjak pertama kali mencari kosan di Surabaya. Pernah beberapa kali ditolak dan tidak dibolehkan menyewa kosan oleh empunya. Alasan satu-satunya adalah karena saya seorang perawat. Kejam.
Ini merupakan bentuk kekerasan baik fisik maupun psikis. Disaat petugas kesehatan sedang berjibaku dan jatuh bangun merawat sepenuh hati pasien penderita COVID-19. Agar penyebarannya tidak meluas dan kalian-kalian tidak ikut terkontaminasi. Malah kalian tindas dan intimidasi berlebihan.
Sikap masyarakat kita jauh berbeda dengan sikap masyarakat dinegara-negara lain yang notabene memiliki tingkat pengetahuan diatas rata-rata. Seperti misalnya Di Spanyol dan Portugal, warganya membuat gerakan tepuk tangan serentak setiap pukul 10:00 PM ditujukkan kepada petugas kesehatan yang telah berkorban memerangi COVID ini.
Di Amerika, warganya membuat pamflet dan stiker ucapan terimakasih kepada para petugas kesehatan lalu ditempelkan di jalan, di tiang listrik dan di dinding-dinding. Di Singapura, warganya serentak membuat catatan dan ungkapan terimakasih yang mereka kirimkan pada semua petugas kesehatan di RumahSakit di negaranya. Di Italia, warganya membuat gerakan menyanyi untuk petugas kesehatan yang memerangi virus corona. Masih banyak lagi. Jika saya menuliskan semuanya. Ada banyak cara warganegara lain dalam mengapresiasi para petugas kesehatan di negaranya masing-masing.
Ada yang berbondong-bondong menyisipkan uangnya, memberi makanan dan asupan nutrisi yang disumbangkan pada Rumah Sakit disekitarnya. Hanya di Indonesia, para petugasnya malah disiksa secara psikis. Di stigma seolah-olah para petugas tersebut adalah musuh yang harus dilawan dan diserang. Miris.
Sebenarnya, ketakutan masyarakat, ketakutan kalian juga sama dirasakan oleh petugas kesehatan. Apalagi mereka yang setiap hari kontak dengan pasien penderita COVID-19 ini. Namun karena tugas dan tanggungjawab yang sebelumnya mereka ikrarkan dalam bentuk sumpah. Untuk tidak membeda-bedakan pasien atas dasar apapun. Mereka harus siap dan sigap dalam melayani setiap orang yang datang. Tentu tidak dengan sembarang cara. Mereka, para petugas kesehatan sudah dibekali dengan SOP tertentu agar penyebaran virus ini tidak meluas termasuk tidak menginfeksi diri mereka sendiri.
Jikalaupun ada, itulah yang disebut kecelakaan. Kalaupun ada petugas yang akhirnya tertular, tentu tidak akan dibiarkan keluyuran disekitar tempat tinggalmu lalu menyebarkan liurnya yang infeksius itu dimulutmu. Tenaga kesehatan tidak sebego itu.
Begitujuga dengan jenazah. Petugas kesehatan tidak akan mengirim jenazah tanpa prosedur dekontaminasi. Setiap jenazah penderita COVID akan dilapisi 5 jenis kain dekontaminasi. Agar virusnya tidak mengawang-awang dan datang bertamu di ruang tamu rumahmu.
Jadi tidak perlu lagi ada penolakan terhadap jenazah penderita COVID dimanapun.
Mungkin saat ini, bagi kalian hal yang paling kejam adalah Virus Corona. Namun bagi para petugas kesehatan, yang paling kejam adalah stigma.
Karena itu cukup-cukuplah.
VIRUS STIGMA VS VIRUS CORONA
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar