BUTON YANG MEMBATIN
"Terlalu betahko dikampungnya orang"
"Pulang-pulang mako weh"
"Apalagi mucari disana kah"
"Ko lupami kampungmu kah?"
Adalah beberapa komentar teratas yang sering masuk di ruang percakapan pribadi media sosial saya akhir-akhir ini.
Meski pertanyaan yang mereka ajukkan terkesan ngegass!. Tapi saya percaya itu bukan bentuk intimidasi mereka terhadap kehidupan pribadi saya. Melainkan bentuk kepedulian yang secara otomatis teraktivasi saat melihat salah satu rekannya seperti menderita di kampung orang lain.
"Tenang mako cika, Baik-baik jaka disini!"
Orang-orang Sophos pernah berkata; "jikalau hidup itu harus punya prinsip, jika tidak ingin terjungkal". Sebagaimana sebuah prinsip, tentu takkan bisa dinilai dengan apapun. Bahkan oleh tahta, harta maupun wanita. Ciaah😁
Sungguh, bukan bermaksud melupakan kampung halaman. Tapi saya ingin mengukur sejauh mana kaki saya dapat melangkah dengan sendirinya. Tentu ada banyak alasan yang buat saya harus menyerah pada keadaan. Jika ingin disebutkan satu-persatu rasanya terlalu gidik nan menggelikan. Barangkali Ada banyak orang-orang yang sukses yang lebih layak menjelaskan. Meski pilihan saya ini tak getir-getir amat. Tapi paling tidak saya memilih untuk tidak tunduk pada penderitaan.
Layaknya pohon pisang, tunas-tunasnya tidak akan bisa tumbuh dengan baik jika dibiarkan hidup disekitar induknya. Lagipula, bukankah orang Buton dilahirkan sebagaimana buah nanas? Yang dapat tumbuh dan beradaptasi ditanah manapun ia dibesarkan. Filosofi itulah yang turun-temurun diceriterakan pada tiap-tiap insan di Buton. Dengan alasan yang sama pula saya mampu bertahan sejauh ini.
(Note : Buah Nanas adalah lambang/simbol filosofi masyarakat buton)
Yah gini-gini saya selalu mengkampanyekan diam-diam falsafah hidup masyarakat Buton. Suatu negeri yang kaya dengan identitas kefalsafahannya. Tiap falsafah yang diajarkan selalu saja menomorsatukan agama. Tidak disebutkan harus menganut suatu agama tertentu. Seperti Islam misalnya. Kamu bisa menjadi seorang pribumi buton meski harus menerapkan ajaran biblikal dan katekismus. Karena bagi ideologi Buton nilai agama ialah nilai yang perenial dan menjunjung moralitas. Meskipun memang secara historikal peradaban masyarakat buton tdk pernah terlepas dari keislamannya.
"Sampean asli nengndi?"
"Aku wong solo mas,"
Kira-kira begitulah cara saya bergurau pada tiap orang yang bertanya tentang asal saya. Mereka bertanya pasca saya menjelaskan falsafah tadi panjang lebar.
"Maksude-- Solowesi mas. Heheh"
Yang tentu setelah itu, mereka akan sambut dengan gelak tawa yang kelakar.
Dari percakapan itu, mereka mulai tertarik dengan asal daerah saya. Disitulah saat yang tepat untuk memperkenalkan kebudayaan dan entitas masyarakat Buton pada mereka.
Walaupun singkat, namun sedikit banyak membuat mereka tertarik dan penasaran dengan Buton. Apalagi dengan daya tarik tanah Buton yang memikat. Soal benteng keraton terluas didunianya. Dan masih banyak lagi tentunya.
"Sepertinya, saya harus ke sana!"
Pungkas mereka.
Ditunggu di Tanah Buton manteman.
BUTON YANG MEMBATIN
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar